FSAP4407 — Collaborative Governance
1. Collaborative governance pertama kali berkembang sebagai respons terhadap kegagalan pendekatan mana dalam administrasi publik?
- A. Pendekatan kolaboratif antarlembaga
- B. Pendekatan adversarial dan manajerialisme top-down
- C. Pendekatan desentralisasi pemerintahan daerah
- D. Pendekatan partisipatif berbasis komunitas lokal
2. Dalam paradigma administrasi publik, collaborative governance menempatkan pemerintah dalam posisi sebagai…
- A. Fasilitator dan katalisator proses kolaborasi
- B. Pengendali tunggal seluruh kebijakan publik
- C. Pelaksana teknis program pembangunan
- D. Pengawas eksternal terhadap aktor non-pemerintah
3. Istilah “governance” dalam konteks administrasi publik modern mengacu pada konsep yang menekankan…
- A. Kekuasaan eksklusif birokrasi pemerintah
- B. Pengelolaan anggaran negara secara efisien
- C. Proses pengambilan keputusan yang melibatkan banyak aktor
- D. Struktur hierarki dalam organisasi pemerintahan
4. Salah satu karakteristik utama collaborative governance yang membedakannya dari konsep kerja sama biasa adalah…
- A. Dibentuk atas dasar instruksi pemerintah pusat
- B. Hanya melibatkan lembaga pemerintah daerah
- C. Berfokus pada pembagian sumber daya keuangan
- D. Melibatkan proses konsensus dalam pengambilan keputusan publik
5. Perbedaan mendasar antara kerja sama (cooperation) dan kolaborasi dalam konteks governance adalah…
- A. Kerja sama melibatkan lebih banyak aktor daripada kolaborasi
- B. Kolaborasi mensyaratkan berbagi tujuan, risiko, dan tanggung jawab bersama
- C. Kerja sama bersifat formal sedangkan kolaborasi bersifat informal
- D. Kolaborasi hanya terjadi di antara lembaga pemerintah
6. Koordinasi dalam administrasi publik berbeda dari kolaborasi karena koordinasi lebih menekankan pada…
- A. Pembentukan tujuan bersama antara semua pihak
- B. Pelibatan warga negara dalam pembuatan kebijakan
- C. Penyelarasan kegiatan agar tidak tumpang tindih
- D. Pembagian tanggung jawab risiko secara merata
7. Model kolaborasi yang dikembangkan oleh Ansell dan Gash (2008) mencakup empat elemen utama, salah satunya adalah…
- A. Kondisi awal (starting conditions) yang memengaruhi proses kolaborasi
- B. Struktur hierarki yang ketat dalam pengambilan keputusan
- C. Dominasi pemerintah sebagai aktor utama kolaborasi
- D. Pemisahan yang jelas antara aktor publik dan swasta
8. Bentuk kolaborasi yang ditandai oleh hubungan jangka panjang, berbagi sumber daya, dan integrasi tinggi disebut…
- A. Koordinasi fungsional
- B. Kooperasi sektoral
- C. Aliansi strategis jangka pendek
- D. Kolaborasi penuh (full collaboration)
9. Governance network didefinisikan sebagai jaringan yang terdiri dari aktor-aktor yang saling bergantung dan berinteraksi untuk…
- A. Mematuhi regulasi yang ditetapkan pemerintah pusat
- B. Mengelola isu publik yang tidak dapat diselesaikan satu aktor saja
- C. Mengoptimalkan keuntungan ekonomi bagi sektor swasta
- D. Menyederhanakan prosedur birokrasi pemerintahan
10. Aktor dalam struktur governance network dapat menempati posisi sebagai “broker” yang berarti aktor tersebut berfungsi sebagai…
- A. Penyandang dana utama dalam jaringan kolaborasi
- B. Pembuat keputusan tertinggi dalam governance network
- C. Penghubung antara aktor-aktor yang tidak terhubung langsung
- D. Pelaksana teknis keputusan yang sudah ditetapkan bersama
11. Bentuk governance network yang ditandai oleh anggota yang relatif tetap, aturan yang jelas, dan hubungan yang stabil disebut…
- A. Policy community (komunitas kebijakan)
- B. Issue network (jaringan isu)
- C. Interorganizational network
- D. Collaborative governance forum
12. Konsep “power” dalam kolaborasi governance mengacu pada kemampuan aktor untuk…
- A. Mendanai seluruh kegiatan kolaborasi secara mandiri
- B. Mengawasi dan mengevaluasi kinerja aktor lain
- C. Menghindari keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan
- D. Memengaruhi hasil kolaborasi sesuai kepentingannya
13. Ketidakpastian (uncertainty) dalam collaborative governance paling sering muncul akibat…
- A. Terlalu banyaknya regulasi yang mengatur proses kolaborasi
- B. Kompleksitas masalah dan ketidaklengkapan informasi yang tersedia
- C. Kurangnya anggaran yang dialokasikan untuk proses kolaborasi
- D. Terlalu banyaknya aktor yang terlibat dalam proses negosiasi
14. The New Institutionalism (Teori Kelembagaan Baru) relevan dalam collaborative governance karena menekankan bahwa…
- A. Lembaga pemerintah adalah satu-satunya aktor yang sah dalam tata kelola
- B. Struktur formal birokrasi menentukan seluruh proses kolaborasi
- C. Institusi formal maupun informal membentuk perilaku aktor dalam kolaborasi
- D. Hanya aturan hukum tertulis yang memengaruhi pengambilan keputusan
15. Dalam proses collaborative governance, ketidakseimbangan power antara aktor dapat menjadi hambatan karena…
- A. Aktor yang lebih kuat dapat mendominasi dan mengurangi partisipasi aktor lemah
- B. Aktor yang lemah cenderung meninggalkan forum kolaborasi secara sukarela
- C. Ketidakseimbangan power mendorong tercapainya konsensus lebih cepat
- D. Aktor kuat selalu memiliki informasi yang lebih lengkap dari aktor lain
16. Komunikasi yang efektif dalam collaborative governance berfungsi untuk…
- A. Mempercepat implementasi keputusan tanpa perlu konsultasi lebih lanjut
- B. Membatasi akses informasi hanya kepada aktor kunci dalam jaringan
- C. Memformalkan hubungan antarlembaga melalui dokumen tertulis
- D. Membangun pemahaman bersama dan mengurangi kesalahpahaman antarpihak
17. Dialog dalam proses collaborative governance berbeda dari negosiasi biasa karena dialog lebih bertujuan untuk…
- A. Mencapai keuntungan maksimal bagi pihak terkuat
- B. Membangun pemahaman bersama dan menggali perspektif semua pihak
- C. Menetapkan posisi awal setiap pihak sebelum tawar-menawar
- D. Mendokumentasikan perbedaan pendapat secara resmi
18. Trust building (membangun kepercayaan) dalam collaborative governance penting karena kepercayaan berfungsi sebagai…
- A. Pengganti kontrak hukum formal antarpihak
- B. Jaminan bahwa tidak akan terjadi konflik dalam proses kolaborasi
- C. Perekat sosial yang mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan komitmen
- D. Syarat formal yang harus dipenuhi sebelum kolaborasi dimulai
19. Kepemimpinan kolaboratif (collaborative leadership) mensyaratkan pemimpin yang mampu…
- A. Memfasilitasi proses kolaborasi dan memberdayakan semua aktor yang terlibat
- B. Mengendalikan seluruh tahapan proses secara hierarkis dan otoriter
- C. Mengambil keputusan final tanpa perlu konsultasi dengan pemangku kepentingan
- D. Mewakili kepentingan lembaganya sendiri dalam setiap perundingan
20. Proses collective decision making dalam collaborative governance mensyaratkan bahwa keputusan harus…
- A. Diambil oleh pihak pemerintah sebagai penanggungjawab utama
- B. Dihasilkan melalui voting suara terbanyak dari semua aktor
- C. Dikonsultasikan terlebih dahulu kepada lembaga legislatif
- D. Lahir dari proses deliberasi dan kesepakatan bersama seluruh pihak
21. Konsensus dalam collaborative governance berbeda dari kompromi karena konsensus mensyaratkan…
- A. Semua pihak menyerahkan kepentingannya secara penuh
- B. Semua pihak dapat menerima keputusan meskipun bukan pilihan utama mereka
- C. Pihak terkuat mendapat porsi keuntungan paling besar
- D. Keputusan diambil berdasarkan suara mayoritas sederhana
22. Penyelesaian konflik dalam collaborative governance yang paling sesuai dengan prinsip kolaborasi adalah melalui pendekatan…
- A. Litigasi formal melalui pengadilan negeri
- B. Intervensi sepihak oleh pemerintah sebagai penengah
- C. Mediasi dan fasilitasi yang melibatkan semua pihak berkonflik
- D. Penghapusan aktor yang menjadi sumber konflik dari jaringan
23. Kolaborasi antarlembaga pemerintah diperlukan terutama ketika…
- A. Masalah publik bersifat lintas sektoral dan membutuhkan sumber daya berbagai instansi
- B. Anggaran suatu kementerian tidak mencukupi untuk program tertentu
- C. Terdapat tumpang tindih kewenangan yang perlu diselesaikan secara hukum
- D. Pemerintah daerah tidak mampu melaksanakan program secara mandiri
24. Model Triple Helix dalam kolaborasi antara pemangku kepentingan melibatkan tiga aktor utama, yaitu…
- A. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil
- B. Swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan media massa
- C. Legislatif, eksekutif, dan yudikatif
- D. Pemerintah, industri atau sektor swasta, dan universitas atau akademisi
25. Model Pentahelix dalam kolaborasi antarpemangku kepentingan menambahkan dua aktor dari Triple Helix, yaitu…
- A. Lembaga internasional dan organisasi militer
- B. Masyarakat sipil dan media
- C. Lembaga keuangan dan badan pengawas
- D. Partai politik dan lembaga legislatif
26. Pemerintah daerah A bermitra dengan sebuah perusahaan swasta untuk membangun dan mengelola sistem pengolahan sampah selama 20 tahun. Kerja sama ini paling tepat dikategorikan sebagai…
- A. Kolaborasi antarlembaga pemerintah
- B. Koordinasi lintas sektor pemerintahan
- C. Public Private Partnership (PPP)
- D. Citizen engagement berbasis komunitas
27. Arti penting Public Private Partnership (PPP) dalam collaborative governance terutama terletak pada kemampuannya untuk…
- A. Mengkombinasikan sumber daya publik dan swasta untuk meningkatkan kualitas layanan publik
- B. Mentransfer seluruh tanggung jawab pelayanan publik kepada sektor swasta
- C. Menggantikan peran pemerintah dalam pembuatan kebijakan publik
- D. Mengurangi keterlibatan masyarakat dalam pengawasan layanan publik
28. Salah satu risiko utama dalam skema Public Private Partnership yang perlu dikelola dalam collaborative governance adalah…
- A. Meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam pengawasan
- B. Berkurangnya pendanaan dari pemerintah untuk proyek infrastruktur
- C. Terlalu banyaknya aktor masyarakat sipil yang ingin terlibat
- D. Konflik kepentingan antara orientasi profit swasta dan kepentingan publik
29. Citizen engagement (keterlibatan warga negara) dalam collaborative governance pada dasarnya merupakan upaya untuk…
- A. Memindahkan tanggung jawab pemerintah kepada warga negara
- B. Melibatkan warga secara aktif dalam proses tata kelola dan pembuatan kebijakan
- C. Mengurangi beban birokrasi melalui outsourcing kepada komunitas
- D. Memastikan kepatuhan warga terhadap kebijakan yang telah ditetapkan
30. Bentuk citizen engagement yang paling tinggi tingkat partisipasinya dalam tangga partisipasi Arnstein adalah…
- A. Pemberian informasi (informing)
- B. Konsultasi publik (consultation)
- C. Kontrol warga (citizen control)
- D. Terapi dan manipulasi (therapy and manipulation)
31. Prinsip utama dalam mendesain keterlibatan warga negara yang efektif dalam collaborative governance adalah…
- A. Inklusivitas, transparansi, dan keterwakilan kelompok yang beragam
- B. Pembatasan peserta pada kelompok yang memiliki keahlian teknis
- C. Dominasi suara kelompok mayoritas dalam setiap forum
- D. Fokus pada kepentingan jangka pendek yang dapat segera diukur
32. Studi kasus keterlibatan warga dalam collaborative governance umumnya menunjukkan bahwa keberhasilan partisipasi sangat bergantung pada…
- A. Besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program partisipasi
- B. Tingkat pendidikan formal rata-rata warga yang terlibat
- C. Jumlah pertemuan yang dilaksanakan dalam satu tahun
- D. Komitmen pemerintah untuk menindaklanjuti masukan warga secara nyata
33. Sebuah kota menerapkan program partisipasi warga di mana warga hanya diberikan informasi tentang proyek pembangunan setelah keputusan ditetapkan. Berdasarkan tangga partisipasi, program ini berada pada tingkat…
- A. Pemberdayaan (empowerment)
- B. Tokenisme atau partisipasi semu
- C. Kemitraan (partnership)
- D. Kontrol warga (citizen control)
34. Salah satu tantangan terbesar dalam implementasi collaborative governance di Indonesia adalah…
- A. Terlalu banyaknya lembaga swadaya masyarakat yang ingin terlibat
- B. Kurangnya minat sektor swasta untuk berinvestasi di sektor publik
- C. Budaya birokrasi yang masih hierarkis dan kurang terbuka terhadap kolaborasi
- D. Regulasi internasional yang membatasi kemitraan pemerintah-swasta
35. Karakteristik governance network yang membedakannya dari organisasi formal adalah…
- A. Hubungan antar anggota bersifat horizontal dan saling bergantung, bukan hierarkis
- B. Memiliki struktur komando yang jelas dan terpusat
- C. Keanggotaannya bersifat wajib dan diatur oleh undang-undang
- D. Seluruh sumber dayanya dikelola oleh satu entitas tunggal
36. Peran aktor dengan posisi “central node” dalam governance network adalah…
- A. Menjadi penyandang dana terbesar dalam jaringan
- B. Mengawasi kepatuhan anggota lain terhadap aturan jaringan
- C. Mewakili kepentingan pemerintah dalam setiap forum
- D. Menjadi titik hubung utama yang menghubungkan banyak aktor dalam jaringan
37. Dua kementerian yang memiliki program tumpang tindih memutuskan untuk menggabungkan anggaran dan tim pelaksana agar program lebih efektif. Situasi ini merupakan contoh dari…
- A. Kerja sama (cooperation) antarlembaga pemerintah
- B. Kolaborasi antarlembaga pemerintah yang sesungguhnya
- C. Koordinasi lintas kementerian yang bersifat sementara
- D. Public Private Partnership antar sektor
38. Dalam konteks ketidakpastian (uncertainty), strategi yang tepat bagi aktor dalam collaborative governance adalah…
- A. Menghindari komitmen jangka panjang sampai ketidakpastian mereda
- B. Mendelegasikan seluruh keputusan kepada aktor yang paling berpengalaman
- C. Meningkatkan pertukaran informasi dan pembelajaran bersama antarpihak
- D. Menggunakan pendekatan top-down untuk memastikan konsistensi kebijakan
39. Perspektif sosiologis dalam The New Institutionalism menekankan bahwa lembaga membentuk perilaku aktor melalui…
- A. Norma, nilai, dan logika kesesuaian yang diterima sebagai hal yang wajar
- B. Insentif ekonomi dan kalkulasi rasional individu
- C. Aturan hukum formal yang ditegakkan melalui sanksi
- D. Sejarah panjang dan jalur ketergantungan institusional
40. Hambatan kepercayaan (trust barrier) yang muncul dari sejarah konflik antarpihak dapat diatasi dalam collaborative governance melalui…
- A. Pemberlakuan sanksi tegas bagi pihak yang melanggar kesepakatan
- B. Penggantian seluruh aktor dengan pihak baru yang tidak memiliki konflik
- C. Menghilangkan rekam jejak konflik dari dokumentasi resmi
- D. Penciptaan keberhasilan awal (small wins) yang membuktikan manfaat kolaborasi
41. Mengapa collaborative governance dianggap lebih mampu menangani wicked problems dibandingkan pendekatan pemerintahan tradisional?
- A. Karena collaborative governance memiliki anggaran yang lebih besar
- B. Karena melibatkan berbagai perspektif dan sumber daya yang dibutuhkan untuk masalah kompleks
- C. Karena proses pengambilan keputusannya lebih cepat dari birokrasi konvensional
- D. Karena sepenuhnya menggantikan peran birokrasi yang dianggap tidak efisien
42. Jika seorang pemimpin dalam forum kolaborasi cenderung mendominasi diskusi dan mengabaikan masukan aktor kecil, kondisi ini mengancam prinsip collaborative governance karena…
- A. Memperlambat proses pengambilan keputusan kolektif secara signifikan
- B. Meningkatkan biaya operasional forum kolaborasi secara tidak proporsional
- C. Merusak inklusivitas dan legitimasi keputusan yang dihasilkan bersama
- D. Membuat aktor besar kehilangan kepercayaan terhadap proses kolaborasi
43. Perbedaan antara issue network dan policy community dalam governance network terletak pada…
- A. Issue network lebih terbuka dan anggotanya berubah-ubah, sementara policy community lebih tertutup dan stabil
- B. Issue network hanya melibatkan pemerintah sedangkan policy community melibatkan swasta
- C. Policy community bersifat sementara sementara issue network bersifat permanen
- D. Issue network memiliki sumber daya lebih besar dibandingkan policy community
44. Mengapa transparansi menjadi prinsip penting dalam collaborative governance, khususnya dalam pengambilan keputusan kolektif?
- A. Karena transparansi menjamin keuntungan finansial bagi semua pihak yang terlibat
- B. Karena transparansi dapat menggantikan kebutuhan akan perjanjian formal
- C. Karena transparansi mempercepat proses konsensus secara otomatis
- D. Karena transparansi membangun kepercayaan dan akuntabilitas antara semua aktor
45. Analisis kasus keterlibatan warga dalam pengelolaan lingkungan menunjukkan bahwa partisipasi warga paling berhasil ketika…
- A. Pemerintah menetapkan seluruh agenda dan batasan diskusi terlebih dahulu
- B. Warga dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi program
- C. Keterlibatan difokuskan hanya pada kelompok yang paling terdampak langsung
- D. Pemerintah menyediakan insentif finansial bagi warga yang berpartisipasi
46. Dalam collaborative governance, akuntabilitas berbeda dari akuntabilitas tradisional karena akuntabilitas dalam kolaborasi bersifat…
- A. Vertikal dan berfokus pada pertanggungjawaban kepada atasan hierarkis
- B. Individual dan dibebankan kepada pemimpin jaringan saja
- C. Mutual dan dibagi bersama oleh semua aktor yang terlibat
- D. Eksternal dan hanya ditentukan oleh lembaga pengawas independen
47. Prinsip “interdependensi” dalam collaborative governance berarti bahwa…
- A. Setiap aktor membutuhkan sumber daya atau kapasitas aktor lain untuk mencapai tujuannya
- B. Semua aktor harus memiliki kapasitas yang sama agar kolaborasi berlangsung adil
- C. Aktor yang lebih kuat bertanggung jawab atas keberhasilan aktor yang lebih lemah
- D. Setiap aktor dapat bertindak secara mandiri tanpa memengaruhi aktor lain dalam jaringan
48. Suatu forum collaborative governance menghadapi situasi di mana dua aktor saling curiga karena pernah berkonflik sebelumnya. Langkah yang paling tepat dilakukan fasilitator adalah…
- A. Memisahkan kedua aktor ke dalam forum yang berbeda agar tidak bertemu
- B. Mengeluarkan salah satu aktor dari forum demi kelancaran proses
- C. Mengabaikan konflik dan melanjutkan diskusi substantif
- D. Menciptakan ruang dialog aman untuk membahas akar ketidakpercayaan secara terbuka
49. Dibandingkan model kolaborasi Triplehelix, keunggulan model Pentahelix dalam collaborative governance terletak pada…
- A. Lebih mudah diimplementasikan karena jumlah aktornya lebih sedikit
- B. Lebih inklusif karena mengintegrasikan peran masyarakat sipil dan media dalam inovasi
- C. Lebih fokus pada aspek teknologi dan inovasi digital dibandingkan Triplehelix
- D. Lebih sesuai untuk negara berkembang karena tidak melibatkan akademisi
50. Evaluasi terhadap keberhasilan collaborative governance paling tepat dilakukan dengan mengukur…
- A. Jumlah pertemuan dan dokumen kesepakatan yang dihasilkan selama proses
- B. Besarnya anggaran yang berhasil dihemat melalui proses kolaborasi
- C. Kualitas proses kolaborasi dan dampak nyata terhadap masalah publik yang ditangani
- D. Tingkat kepuasan pemerintah sebagai inisiator utama proses kolaborasi
Latihan Tambahan dengan AI
Salin prompt di bawah ini, lalu tempelkan ke ChatGPT, Gemini, Claude, atau AI lainnya untuk mendapatkan 50 soal latihan baru dengan materi yang sama. Soal yang dihasilkan AI akan berbeda dari soal di halaman ini.